Adat Budaya Minangkabau
All about adat budaya minangkabau, minangkabau culture
Statistics
Unique Visitors:
Total Unique Visitors:


Outgoing:
Total Outgoing:
45
0


2
211

Articles from Adat Budaya Minangkabau

Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan Minangkabau
2008-07-01 21:10:45
Berbeda dengan banyak masyarakat tradisional di Nusantara ini, masyarakat dan kebudayaan Minangkabau memiliki filosofi dan pandangan hidup (weltanschauung) yang sesungguhnya mengandung nilai-nilai global yang langgeng ” tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan”. Melalui petatah-petitih serta pantun-pribahasa itu, orang akan menemukan sejumlah prinsip dasar kehidupan yang padanannya hanya ditemukan dalam kebudayaan Yunani lama dan dalam khazanah kebudayaaan Islam. Ketiganya yakni adat Minangkabau, kebudayaan Barat yang berasal Yunani (melalui pengaruh modernisme dari Barat), dan Islam, dalam prosesnya telah terjalin dalam satu jalinan ajaran yang harmonis dalam kebudayaan Minangkabau. Dengan pendekatan dialektik tesis-antitesis dan sintesisnya, masyarakat dan kebudayaan Minangkabau telah memadu ketiga unsur budaya itu, seperti yang dipusakakan oleh masyarakat di sana saat ini. Sejumlah ciri budaya yang lekat dengan nama Minangkabau adalah: demokratis, terbuka, resiprok ...
Arsitektur Tradisional Minangkabau : BENTUK DAN BUDAYA SALING BERKAIT
2008-07-01 02:30:03
Oleh : Zulfikri Bangsa Indonesia terkenal akan ragam budaya dan etnisnya, tentunya lengkap dengan segala atribut kebudayaannya. Sementara kelestarian semakin sering dudengungkan orang banyak, namun dilain pihak banyak pula yang - sadar ataupun tidak - tidak mempedulikan kelestarian itu. Sebut saja contoh jelas, rumah rumah tradisional. Termasuk rumah tradisional Minangkabau di daerah Sumatra Barat, keberadaannya perlu diperhatikan, kalau memang kita menginginkan bangunan tersebut tetap dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Bangunan tradisional memang merupakan ciri bagi setiap daerah. Dari bangunannya dapat diketahui identitas daerah-daerah tersebut, karena itu wajar saja bila bangunan-bangunan khas itu perlu dilestarikan. Namun dipihak lain, para penghuni bangunan-bangunan itu mungkin saja memiliki suatu keinginan untuk mengganti rumah tuanya dehgan bangunan baru yang modern, bila keadaan memungkinkan. Tentunya, hal ini dapat dimengerti mengingat mereka juga ingin menikmati pemba ...
ANAK DARO GATA
2008-06-30 09:45:05
Oleh : Wisran Hadi / Padang Ekspres Kini banyak bana Sabai Nan Aluih dapek undangan baralek. Undangan tu ado nan sagadang lapiak sumbayang, ado pulo nan dimasuak an ka dalam tabuang, sarupo lamang angek. Ado pulo undangan tu saroman baricih pacuan kudo. Babagai-bagai bantuaknyo. Rancak-rancak kasadonyo. Tampek baraleknyo juo bamacam-macam. Ado nan di rumah gadangnyo di kampuang, ado nan di rumah barunyo di kompleks-kompleks parumahan, ado nan di hotel-hotel mewah, ado nan di gedung pertemuan, bahkan ado pulo nan ditangah lapang. Rami Allahurabbi! Sampai ka tangah jalan bapasang tenda, babateh jo kain. Saroman jalan gadang tu dibuek pamarentah hanyo untuak inyo saparinduan. Kutiko dalam sabuah acara baralek di hotel bintang, Sabai Nan Aluih tagak badakek-dakek jo Mangkutak Alam, adiak kanduangnyo nan santiang tak tabado tu. Kaduonyo antri nak basalaman jo anak daro sarato marapulai. Banyak bana urang nan antri tu. Sampai ado nan tabik paluahnyo. Ado nan paniang dek lamo tagak. Ado na ...
NGAEK
2008-06-29 22:40:54
Oleh : Yusrizal KW Orang Minang punya kata: Ngaek -basingaek. Kata ngaek digunakan untuk penegasan tindakan atau perilaku yang berlebihan, yang awal katanya diberi kata Indak” atau “tidak’. Karena itu kita dengar kata basingaek (bersingaek) dalam komentar atau ucapan orang Minang untuk menanggapi sesuatu yang berlebihan, tetapi cenderung sebagai anggapan kurang baik. Misalnya, untuk orang yang makannya banyak, orang tambah dua, dia enam, sementara ada yang belum kebagian tambah, maka orang itu kadang ada yang bilang, “Ondeh, indak basingaek makannyo, indak diagaknya orang lain”. Artinya, dia makan sangat banyak, kapasitas perutnya di atas rata-rata, punya orang pun dia embat. Tapi, indak basingaek boleh juga disebut untuk menyatakan keheranan, betapa sangat tidak berlebihan cara atau tindakan seseorang itu. Indak Basingaek, ya boleh disebut sebagai keterlaluan. Kelewatan perangainya. Misalnya, kalau ada orang berkata, “Anak si Anu itu indak basingae ...
Kecerdasan Simbol Minangkabau
2008-06-26 00:45:18
oleh : Andi Asrizal/padang ekspres Merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat disangkal, bila lahirnya kebiasaan dari individu dan masyarakat (custome) dapat membentuk tatanan kelakuan (behaviour) kemudian menjadi budaya (culture). Meleburnya tiga hal tersebut (custome, behaviour, culture) melahirkan satu tatanan yang disebut dengan konvensi/kesepakatan (convention). Di sisi lain ada pula makna suka atau arbitrer yang juga merupakan kesepakatan namun kesepekatan ini tak tertulis dan lebih spesifik. Dalam disiplin ilmu semiotik (ilmu tentang tanda), hal-hal tersebut dijadikan ‘kacamata’ untuk menilik berbagai fenomena budaya di sekitar kita. Lain padang lain ilalang, demikian kiranya ungkapan yang pantas untuk menyatakan berbagai kesepakatan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat suku Jawa sepakat mengatakan bahwa bendera kuning adalah simbol dari kedukacitaan (ada warga yang meninggal dunia). Untuk menyatakan hal yang sama, suku Rejang (di Bengkulu) menggunakan bendera hijau tu ...
ABS-SBK, Kesadaran Kolektif dan Norma Dasar untuk Membangun Masyarakat Beradat di Sumatera Barat
2008-06-24 20:14:32
Sumbangan Pikiran untuk Bahan Pembuka Kompilasi ABS-SBK di Sumatera Barat ADAT BASANDI SYARAK (ABS), SYARAK BASANDI KITABULLAH (SBK) Membangkitkan Kembali Kesadaran Kolektif Akan Nilai dan Norma Dasar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Untuk Membangun Manusia dan Masyarakat Minangkabau Yang Unggul Dan Tercerahkan Oleh : H. Mas’oed Abidin ABS SBK MERUPAKAN BATU POJOK BANGUNAN MASYARAKAT MINANGKABAU YANG (DULU PERNAH) UNGGUL DAN TERCERAHKAN Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan hasil kesepakatan - Piagam Sumpah Satie Bukik Marapalam di awal abad ke 19 - dari dua arus besar (”main-streams”) Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup (PDPH) Masyarakat Minangkabau yang sempat melewati konflik yang melelahkan. Sejarah membuktikan, kesepakatan yang bijak itu telah memberikan peluang tumbuhnya beberapa angkatan “generasi emas” selama lebih satu abad berikutnya. Dalam periode keemasan itu, Minangkabau dikenal sebagai lumbung penghasil tokoh ...
TANTANGAN AHLI BAHASA DAN PEKAMUS
2008-06-23 08:59:32
Menyelamatkan Kekayaan Bahasa Minangkabau oleh: Suryadi Seperti halnya bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia, Bahasa Minangkabau terus berubah. Pengaruh Bahasa Indonesia sudah menyebar jauh ke pelosok daerah di Sumatra Barat, dibawa oleh media audio visual seperti televisi dan radio, ‘membengkokkan’ lidah generasi muda Minangkabau, yang mulai terbata-bata berkomunikasi dalam bahasa ibunya sendiri. Suka atau tidak suka, Bahasa Indonesia, dan mungkin juga bahasa asing seperti Bahasa Inggris, makin mempengaruhi masyarakat penutur Bahasa Minangkabau. Demikianlah umpamanya, di banyak desa aktivitas budaya tempat menuturkan Bahasa Minangkabau ragam adat makin jarang dipraktekkan. Kalau dulu acara pasambahan menjemput mempelai pria (manjapuik marapulai), misalnya, bisa memakan waktu berjam-jam, dimana kemampuan bersilat lidah benar-benar dipraktekkan, yang penuh dengan mamangan, pepatah, gurindam, pantun, dan idiom-idiom yang penuh metafora, maka sekarang masyarakat cenderung main ...
Pundi-pundi Naskah Minangkabau
2008-06-23 08:52:51
Oleh: Zuriati Penyebutan terhadap ‘naskah Minangkabau’, terutama merujuk pada naskah yang ditulis dan atau disalin di Minangkabau (Sumatra Barat, minus Mentawai). Naskah-naskah itu ditulis dan atau disalin dengan menggunakan aksara Arab-Melayu dan bahasa Melayu Minangkabau. Naskah yang ditulis dan atau disalin dalam aksara Arab-Melayu dan bahasa Minangkabau tidak banyak ditemukan. Selain itu, naskah-naskah Minangkabau juga disalin dan atau ditulis dalam aksara Arab dan bahasa Arab. Aksara Arab-Melayu dan bahasa Minangkabau yang digunakan itu dapat dilihat pada naskah yang mengandung teks nonkeagamaan, seperti undang-undang (Minangkabau), kaba, hikayat, syair, silsilah, dan surat pagang gadai. Meskipun begitu, tafsir al-Quran sebagai salah satu teks keagamaan juga ada yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu dan bahasa Melayu-Minangkabau. Sementara itu, naskah yang ditulis dengan aksara Arab-Melayu dan bahasa Minangkabau sangat sedikit jumlahnya. Dari 21 naskah Undang-Undang Minang ...
PEREMPUAN MINANGKABAU
2008-06-04 20:12:01
PEREMPUAN MINANGKABAU OLEH : LINDA PURNAWATI, S.PD Sumatra Barat boleh berbangga, jika dilihat dari pendidikan. Secara umum perempuan dan laki-laki Minangkabau memiliki tingkat pendidikan yang relatif berimbang. Data menunjukkan bahwa siswa dan mahasiswa yang berprestasi pada umumnya adalah perempuan. Artinya saat ini Sumatra Barat mempunyai perempuan potensial yang merupakan aset bagi keberlangsungan masyarakat Sumatra Barat. Namun potensi ini belum menjamin mapannya kehidupan seorang perempuan Sumatra Barat. Banyak perempuan belum mendapat ruang dan kesempatan yang memadai dalam pembangunan. Berbagai dilema dalam lingkungan seorang perempuan membelenggu. Figur perempuan dalam kekerabatan sebagai limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci, pusek jalo kumpalan tali, kaunduang-unduang ka Madinah kapayuang panji ka sarugo, semakin memperkuat perempuan Minangkabau menjadi perempuan yang aktif, penuh inisiatif dan menjadi teladan dalam kampung. Artinya secara sosial dan budaya te ...
Pokok-pokok Pikiran Islam & Intelektual Minangkabau
2008-06-02 09:20:08
Oleh Prof. DR. H. Amir Syarifuddin Belakangan ini keberadaan intelektual atau secara khusus ulama Minangkabau sering diperkatakan orang Minangkabau sendiri maupun oleh orang luar Minangkabau. Pembicaraan ini muncul karena selama ini Minangkabau dikenal orang sebagai gudangnya ulama dan pemasok ulama terbesar untuk daerah daerah lainnya. Suara ulama Minangkabau bersipongang ke seantero tanah air kita. Sipongang seperti pada waktu ini dirasakan tidak begitu lagi. Sebenarnya membicara “Ulama Minangkabau” pada waktu ini tidak relevan lagi, karena telah begitu meluasnya wawasan kita. Batas antara Minang dengan yang bukan Minang sudah mulai kabur, setidaknya dalam pembicaraan. Dalam kesempatan ini perlu juga diperkatakan keberadaan intelektual Minangkabau sekedar untuk memberikan kepuasan perasaan kita bahwa keberadaan ulama dan intelektual Minang tidak perlu lagi diperkatakan, bahasan dibawah ini mengarah kepada perkembangan lembaga pendidikan agama yang merupakan lembaga pengha ...



4842 blogs in our database.
Statistics resets every week.
eXTReMe Tracker